"Bu Jannah" biasa kami memanggilanya seorang ibu rumah tangga yang berasal dari Kec. Muncar, Kab. Banyuwangi, Propinsi Jawa Timur. Wanita berdarah Madura ini memiliki hati yang sangat mulia, beliau seorang wanita pekerja keras yang ulet tidak gampang menyerah pada situasi dan keadaan. Suami beliau tidak memiliki pekerjaan yang tetap malah lebih banyak menganggur daripada kerja sedangkan gaji anak-anaknya juga sangat minim untuk memenuhi kebutuhan hidup, praktis Bu Jannah harus bekerja banting tulang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya agar dapur tetap mengepul dan kos kamar dapat dibayar tiap bulan.
Sifat mulia yang dimilikinya adalah tidak tega melihat orang susah, nuraninya sebagai manusia sangat tersentuh ketika melihat orang lain dalam kesusahan, beliau langsung turun tangan membantu meskipun beliau juga secara ekonomi sangat morat-marit. Memberi dari kekurangan tentu nialainya lebish besar daripada memberi dari kelimpahan. Ketika Nurhasiba teman sekerja beliau di warung mengalami kesulitan ekonomi dimana tidak bisa membayar kredit bulanan sepeda motor sebesar Rp600.000,-, Nurhasibah i curhat ke Bu Jannah dengan nada mengharapkan belas kasihan orang lain, rasa empati Bu Jannah langsung tergugah untuk menolong sang teman meskipun pada saat itu beliau tidak memiliki uang sebesar itu, Bu Jannah mencarikan pinjaman Rp 500.000,- dari orang lain. Sungguh luar biasakan rasa kasih yang dimiliki beliau??? Apa yang terjadi setelah Bu Jannah membantu orang tersebut???. Nurhasibah dihadapkan masalah keluarga yang sangat pelik, beliau diusir oleh suaminya alhasil Nurhasibah pergi tidak diketahui rimbanya dan pinjaman Rp500.000,- itupun lenyap, Bu Jannah yang menanggung akibatnya beliau harus membayar pinjaman tersebut kepada pemberi pinjaman.
Kisah di atas mencermikan potret kaum marjinal yang tulus suka menolong orang lain yang belum tentu orang kaya sanggup melakukan hal tersebut. Saya doakan Bu Jannah diberkati dan selalu diberi kelimpahan oleh Tuhan. Upah anda sangat besar di sorga yang baka.
Sabtu, 16 Juni 2012
Minggu, 10 Juni 2012
Beragama Vs Beradab
Lagi mati gaya bingung mau ngapain ga ada ide, mendingan kita merangkai kata di blog ini aja sob......
Sambil nunggu Pertandingan Euro 2012 Italy vs Spanyol pastinya nanti seru habis......
Ok deh back to topik aja ya sperti yang tertera di atas........ garing kebanyakan basa-basi.......
Orang yang mengklaim dirinya beragama tentu saja setia dan rajin melakukan semua ritual-ritual peribadatannya, jikalau dia menganut agama Kristen pasti dia rajin kegereja setiap hari minggu. menghadiri pertemuan-pertemuan mingguan, selalu berdoa, rajin membaca dan merenungkan Alkitab. Kalau menganut agama Islam rajin solat, ngaci, dzikir, dll...... Begitu juga dengan penganut agama-agama lainnya. Sebagai contoh ilustrasi ada seorang bapak bernama Budi bekerja sebagai pejabat pajak, beliau seorang penganut Kristen, beliu rajin kegeraja setiap minggu, rajin mengikuti koor di geraja, tidak pernah ketinggalan di setiap kegiatan gerejawi.
Di dalam pekerjaannya Pak Budi sering melakukan tidak terpuji sperti korupsi, berkolusi dan sering menerima suap dari para wajib pajak. Sangat ironi dengan agama aktifitas keagaman beliau yang tentu saja tidak membernarkan tindakan-tindakan Pak Budi tersebut.
Contoh Ilustrasi kedua kita ambil contoh Mr. Smith, seorang atheis yang tidak percaya Tuhan. Beliau bekerja sebagai seorang Hakim yang menjunjung tinggi nilai kejujuran tidak mau menerima suap dari para terdakwa dan bekerja profesional penuh integritas.
Dari kedua contoh di atas kita dapat menyimpulkan bahwa orang yang beragama belum tentu beradab. Lebih baik tidak bergama tapi beradab daripada beragama tapi tidak beradap.
Hal ini merupakan cermin dari bangsa Indonesia yang mengklaim sebagai negara paling bergama tapi sayang tindak tanduk masyarakat tindak mencerminkan sebagai masyarakat yang beradab. Korupsi, suap, anarkisme, premanisme dan tindakan negatif lainnya merajalela di negri ini. Siapakah yang disalakan??? apakah agamanya yang salah????? atau tingkat kesejahteraan ekonomi masyarakat yang masih rendah??? hal ini yang menjadi pertanyaan yang sulit untuk dijawab. Kesimpulannya adalah tidak perlu bergama untuk menjadi bangsa yang beradab, cukup berkomitmen melakukan hal yang benar di dalam kehidupan bermasyarakt dan bernegara maka bangsa kita akan menjadi bangsa yang aman, damai dan sejahtera.
Sambil nunggu Pertandingan Euro 2012 Italy vs Spanyol pastinya nanti seru habis......
Ok deh back to topik aja ya sperti yang tertera di atas........ garing kebanyakan basa-basi.......
Orang yang mengklaim dirinya beragama tentu saja setia dan rajin melakukan semua ritual-ritual peribadatannya, jikalau dia menganut agama Kristen pasti dia rajin kegereja setiap hari minggu. menghadiri pertemuan-pertemuan mingguan, selalu berdoa, rajin membaca dan merenungkan Alkitab. Kalau menganut agama Islam rajin solat, ngaci, dzikir, dll...... Begitu juga dengan penganut agama-agama lainnya. Sebagai contoh ilustrasi ada seorang bapak bernama Budi bekerja sebagai pejabat pajak, beliau seorang penganut Kristen, beliu rajin kegeraja setiap minggu, rajin mengikuti koor di geraja, tidak pernah ketinggalan di setiap kegiatan gerejawi.
Di dalam pekerjaannya Pak Budi sering melakukan tidak terpuji sperti korupsi, berkolusi dan sering menerima suap dari para wajib pajak. Sangat ironi dengan agama aktifitas keagaman beliau yang tentu saja tidak membernarkan tindakan-tindakan Pak Budi tersebut.
Contoh Ilustrasi kedua kita ambil contoh Mr. Smith, seorang atheis yang tidak percaya Tuhan. Beliau bekerja sebagai seorang Hakim yang menjunjung tinggi nilai kejujuran tidak mau menerima suap dari para terdakwa dan bekerja profesional penuh integritas.
Dari kedua contoh di atas kita dapat menyimpulkan bahwa orang yang beragama belum tentu beradab. Lebih baik tidak bergama tapi beradab daripada beragama tapi tidak beradap.
Hal ini merupakan cermin dari bangsa Indonesia yang mengklaim sebagai negara paling bergama tapi sayang tindak tanduk masyarakat tindak mencerminkan sebagai masyarakat yang beradab. Korupsi, suap, anarkisme, premanisme dan tindakan negatif lainnya merajalela di negri ini. Siapakah yang disalakan??? apakah agamanya yang salah????? atau tingkat kesejahteraan ekonomi masyarakat yang masih rendah??? hal ini yang menjadi pertanyaan yang sulit untuk dijawab. Kesimpulannya adalah tidak perlu bergama untuk menjadi bangsa yang beradab, cukup berkomitmen melakukan hal yang benar di dalam kehidupan bermasyarakt dan bernegara maka bangsa kita akan menjadi bangsa yang aman, damai dan sejahtera.
Langganan:
Postingan (Atom)