D'Backpacker Patiallo
Rabu, 12 Desember 2012
Arti Definisi .com - Bahan Belajar Online Untuk SD, SMP, SMA dan Perguruan Tinggi: Video contoh soal dan pembahasan menentukan domain...
Arti Definisi .com - Bahan Belajar Online Untuk SD, SMP, SMA dan Perguruan Tinggi: Video contoh soal dan pembahasan menentukan domain...: Pada video ini anda akan diajarkan tentang cara menentukan domain dan range suatu fungsi menggunakan bantuan grafik
Sabtu, 16 Juni 2012
Ketika Kaum Marjinal Berbagi
"Bu Jannah" biasa kami memanggilanya seorang ibu rumah tangga yang berasal dari Kec. Muncar, Kab. Banyuwangi, Propinsi Jawa Timur. Wanita berdarah Madura ini memiliki hati yang sangat mulia, beliau seorang wanita pekerja keras yang ulet tidak gampang menyerah pada situasi dan keadaan. Suami beliau tidak memiliki pekerjaan yang tetap malah lebih banyak menganggur daripada kerja sedangkan gaji anak-anaknya juga sangat minim untuk memenuhi kebutuhan hidup, praktis Bu Jannah harus bekerja banting tulang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya agar dapur tetap mengepul dan kos kamar dapat dibayar tiap bulan.
Sifat mulia yang dimilikinya adalah tidak tega melihat orang susah, nuraninya sebagai manusia sangat tersentuh ketika melihat orang lain dalam kesusahan, beliau langsung turun tangan membantu meskipun beliau juga secara ekonomi sangat morat-marit. Memberi dari kekurangan tentu nialainya lebish besar daripada memberi dari kelimpahan. Ketika Nurhasiba teman sekerja beliau di warung mengalami kesulitan ekonomi dimana tidak bisa membayar kredit bulanan sepeda motor sebesar Rp600.000,-, Nurhasibah i curhat ke Bu Jannah dengan nada mengharapkan belas kasihan orang lain, rasa empati Bu Jannah langsung tergugah untuk menolong sang teman meskipun pada saat itu beliau tidak memiliki uang sebesar itu, Bu Jannah mencarikan pinjaman Rp 500.000,- dari orang lain. Sungguh luar biasakan rasa kasih yang dimiliki beliau??? Apa yang terjadi setelah Bu Jannah membantu orang tersebut???. Nurhasibah dihadapkan masalah keluarga yang sangat pelik, beliau diusir oleh suaminya alhasil Nurhasibah pergi tidak diketahui rimbanya dan pinjaman Rp500.000,- itupun lenyap, Bu Jannah yang menanggung akibatnya beliau harus membayar pinjaman tersebut kepada pemberi pinjaman.
Kisah di atas mencermikan potret kaum marjinal yang tulus suka menolong orang lain yang belum tentu orang kaya sanggup melakukan hal tersebut. Saya doakan Bu Jannah diberkati dan selalu diberi kelimpahan oleh Tuhan. Upah anda sangat besar di sorga yang baka.
Sifat mulia yang dimilikinya adalah tidak tega melihat orang susah, nuraninya sebagai manusia sangat tersentuh ketika melihat orang lain dalam kesusahan, beliau langsung turun tangan membantu meskipun beliau juga secara ekonomi sangat morat-marit. Memberi dari kekurangan tentu nialainya lebish besar daripada memberi dari kelimpahan. Ketika Nurhasiba teman sekerja beliau di warung mengalami kesulitan ekonomi dimana tidak bisa membayar kredit bulanan sepeda motor sebesar Rp600.000,-, Nurhasibah i curhat ke Bu Jannah dengan nada mengharapkan belas kasihan orang lain, rasa empati Bu Jannah langsung tergugah untuk menolong sang teman meskipun pada saat itu beliau tidak memiliki uang sebesar itu, Bu Jannah mencarikan pinjaman Rp 500.000,- dari orang lain. Sungguh luar biasakan rasa kasih yang dimiliki beliau??? Apa yang terjadi setelah Bu Jannah membantu orang tersebut???. Nurhasibah dihadapkan masalah keluarga yang sangat pelik, beliau diusir oleh suaminya alhasil Nurhasibah pergi tidak diketahui rimbanya dan pinjaman Rp500.000,- itupun lenyap, Bu Jannah yang menanggung akibatnya beliau harus membayar pinjaman tersebut kepada pemberi pinjaman.
Kisah di atas mencermikan potret kaum marjinal yang tulus suka menolong orang lain yang belum tentu orang kaya sanggup melakukan hal tersebut. Saya doakan Bu Jannah diberkati dan selalu diberi kelimpahan oleh Tuhan. Upah anda sangat besar di sorga yang baka.
Minggu, 10 Juni 2012
Beragama Vs Beradab
Lagi mati gaya bingung mau ngapain ga ada ide, mendingan kita merangkai kata di blog ini aja sob......
Sambil nunggu Pertandingan Euro 2012 Italy vs Spanyol pastinya nanti seru habis......
Ok deh back to topik aja ya sperti yang tertera di atas........ garing kebanyakan basa-basi.......
Orang yang mengklaim dirinya beragama tentu saja setia dan rajin melakukan semua ritual-ritual peribadatannya, jikalau dia menganut agama Kristen pasti dia rajin kegereja setiap hari minggu. menghadiri pertemuan-pertemuan mingguan, selalu berdoa, rajin membaca dan merenungkan Alkitab. Kalau menganut agama Islam rajin solat, ngaci, dzikir, dll...... Begitu juga dengan penganut agama-agama lainnya. Sebagai contoh ilustrasi ada seorang bapak bernama Budi bekerja sebagai pejabat pajak, beliau seorang penganut Kristen, beliu rajin kegeraja setiap minggu, rajin mengikuti koor di geraja, tidak pernah ketinggalan di setiap kegiatan gerejawi.
Di dalam pekerjaannya Pak Budi sering melakukan tidak terpuji sperti korupsi, berkolusi dan sering menerima suap dari para wajib pajak. Sangat ironi dengan agama aktifitas keagaman beliau yang tentu saja tidak membernarkan tindakan-tindakan Pak Budi tersebut.
Contoh Ilustrasi kedua kita ambil contoh Mr. Smith, seorang atheis yang tidak percaya Tuhan. Beliau bekerja sebagai seorang Hakim yang menjunjung tinggi nilai kejujuran tidak mau menerima suap dari para terdakwa dan bekerja profesional penuh integritas.
Dari kedua contoh di atas kita dapat menyimpulkan bahwa orang yang beragama belum tentu beradab. Lebih baik tidak bergama tapi beradab daripada beragama tapi tidak beradap.
Hal ini merupakan cermin dari bangsa Indonesia yang mengklaim sebagai negara paling bergama tapi sayang tindak tanduk masyarakat tindak mencerminkan sebagai masyarakat yang beradab. Korupsi, suap, anarkisme, premanisme dan tindakan negatif lainnya merajalela di negri ini. Siapakah yang disalakan??? apakah agamanya yang salah????? atau tingkat kesejahteraan ekonomi masyarakat yang masih rendah??? hal ini yang menjadi pertanyaan yang sulit untuk dijawab. Kesimpulannya adalah tidak perlu bergama untuk menjadi bangsa yang beradab, cukup berkomitmen melakukan hal yang benar di dalam kehidupan bermasyarakt dan bernegara maka bangsa kita akan menjadi bangsa yang aman, damai dan sejahtera.
Sambil nunggu Pertandingan Euro 2012 Italy vs Spanyol pastinya nanti seru habis......
Ok deh back to topik aja ya sperti yang tertera di atas........ garing kebanyakan basa-basi.......
Orang yang mengklaim dirinya beragama tentu saja setia dan rajin melakukan semua ritual-ritual peribadatannya, jikalau dia menganut agama Kristen pasti dia rajin kegereja setiap hari minggu. menghadiri pertemuan-pertemuan mingguan, selalu berdoa, rajin membaca dan merenungkan Alkitab. Kalau menganut agama Islam rajin solat, ngaci, dzikir, dll...... Begitu juga dengan penganut agama-agama lainnya. Sebagai contoh ilustrasi ada seorang bapak bernama Budi bekerja sebagai pejabat pajak, beliau seorang penganut Kristen, beliu rajin kegeraja setiap minggu, rajin mengikuti koor di geraja, tidak pernah ketinggalan di setiap kegiatan gerejawi.
Di dalam pekerjaannya Pak Budi sering melakukan tidak terpuji sperti korupsi, berkolusi dan sering menerima suap dari para wajib pajak. Sangat ironi dengan agama aktifitas keagaman beliau yang tentu saja tidak membernarkan tindakan-tindakan Pak Budi tersebut.
Contoh Ilustrasi kedua kita ambil contoh Mr. Smith, seorang atheis yang tidak percaya Tuhan. Beliau bekerja sebagai seorang Hakim yang menjunjung tinggi nilai kejujuran tidak mau menerima suap dari para terdakwa dan bekerja profesional penuh integritas.
Dari kedua contoh di atas kita dapat menyimpulkan bahwa orang yang beragama belum tentu beradab. Lebih baik tidak bergama tapi beradab daripada beragama tapi tidak beradap.
Hal ini merupakan cermin dari bangsa Indonesia yang mengklaim sebagai negara paling bergama tapi sayang tindak tanduk masyarakat tindak mencerminkan sebagai masyarakat yang beradab. Korupsi, suap, anarkisme, premanisme dan tindakan negatif lainnya merajalela di negri ini. Siapakah yang disalakan??? apakah agamanya yang salah????? atau tingkat kesejahteraan ekonomi masyarakat yang masih rendah??? hal ini yang menjadi pertanyaan yang sulit untuk dijawab. Kesimpulannya adalah tidak perlu bergama untuk menjadi bangsa yang beradab, cukup berkomitmen melakukan hal yang benar di dalam kehidupan bermasyarakt dan bernegara maka bangsa kita akan menjadi bangsa yang aman, damai dan sejahtera.
Minggu, 12 Februari 2012
Don't Judge the Book by Its Cover
Ketika saya berangkat dari Balikpapan menuju Jakarta, di dalam pesawat saya duduk bersebelahan dengan pasangan suami isteri yang sudah parubaya. Dari penampilan mereka biasa saja malah sedikit kampungan meskipun sang suami menggunakan jas. Di dalam perjalan ketika para Pramugari menawarkan makanan si bapak tua tersebut memesan 2 gelas kopi dan beberapa snack untuk dinikmati bersama dengan istrinya. Dalam hati saya berkata "mungkin bapak tua ini tidak tau kalau makanan tersebut harus dibayar" ternyata dugaan saya salah, sang bapak tua langsung mengeluarkan uang lembaran pecahan Rp100ribu rupiah. Wow keren juga bapak tua ini..........!!!. Untuk mencari tau apa profesi dari si bapak tua ini saya akhirnya langsung bertanya kepada si bapak tua ini dan beliau menjawab sebagai seorang juragan kapal penangkap ikan dan berencana mau pergi umroh ke mekkah untuk kali kedua. "luar biasa!!!" dalam hatiku mengagumi bapak tua yang saya sedikit under estimate ternyata seorang pengusaha dengan memiliki 3 kapal penangkap ikan.
Kagum, salut luar biasa hanya itu yang terbesit dari hatiku. Diusia yang sudah uzur bapak tua mengahabiskan masa tuanya dengan berjalan jalan keluar negeri. Apakah saya dimasa tua nanti seperti bapak tua pelesiran keluar negeri atau sebaliknya hidup memprihatinkan mengharapkan belas kasihan orang untuk mendapatkan sesuap nasi??????. Mulai sekarang saya harus menentukan pilihan bekerja jadi orang upahan sampai usia pensiun tiba atau menjadi pengusaha yang bisa menikmati hari tua dengan berjalan jalan keluar negeri.
Sabtu, 04 Februari 2012
Faktor Sukses
Faktor Sukses
OPINI | 03 February 2012 | 19:36
101 2 1 dari 1 Kompasianer menilai inspiratif
Bila kita mendengar seorang sarjana yang lulus dengan indeks prestasi tinggi, dalam benak kita sudah terbayang bahwa sebentar lagi akan menanti pekerjaan yang baik dan masa depan yang cemerlang bagi sarjana berprestasi tersebut. Namun, tidak demikian dengan Jack Lord. Ini Kisah Nyata. Jack Lord begitu Ia biasa dipanggil adalah seorang sarjana dengan predikat cum laude dari Universitas Riau. Beliau telah menghabiskan waktunya lebih dari 8 tahun bekerja sebagai Tukang Pel (Cleaning Service) di Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP)di jajaran Pemerintah Propinsi Riau. Otak encer dan Prestasi Akademik (IP 3,75) yang dicapai dengan susah payah ternyata tidak dapat mengubah nasib Jack Lord yang tetap menjadi Tukang Pel. Berita lengkapnya ada di : www.metronews.com/index.php/metro
Apa yang dapat kita petik dari kisah dan data di atas? Sebuah fakta menunjukkan bahwa kecerdasan dan prestasi akademis tidak menjamin lulusannya bisa mandiri, bisa mengatasi problema kehidupan dan bisa mengatasi masalah pengangguran.
Kisah Seorang OB (Office Boy)
Selanjutnya Saya akan menampilkan satu kisah pembanding, inipun kisah nyata. Kisah seorang Houtman Zaenal Arifin. Kisahnya dimulai ketika Houtman setamat SMA merantau ke Jakarta, karena kerasnya kehidupan Jakarta, Houtman lakoni pekerjaan sebagai pedagang asongan, Ia terus pelihara cita-citanyanya, dia ingin menjadi orang sukses dan hidup sejahtera begitu, katanya. Setiap hari, ia datangi kantor-kantor mewah untuk memasukkan surat lamaran pekerjaan, sampai suatu ketika, datang panggilan pekerjaan. Houtman mendapat panggilan bekerja di sebuah perusahaan yang sangat terkenal di dunia, The First National City Bank (Citybank), sebuah perusahaan bonafit di USA yang membuka cabang di Jakarta, Houtman pun diterima sebagai OB (Office Boy). Office Boy atau cleaning service atau tenaga kebersihan adalah struktur pekerjaan yang paling rendah di kantor tersebut, tugasnya mulai dari membersihkan WC, ruangan kerja dan ruangan lainnya.
Houtman menjalani pekerjaan sebagai OB dengan baik, namun kemauan belajar, berusaha, dan kegigihan yang luar biasa,membuat dia terus mengalami perubahan yang cepat, mulai sebagai OB, dia berkesempatan belajar mengoperasikan mesin fotocopy, dia juga rajin membantu karyawan yang lembur sampai malam, dia terus belajar dan bertanya tentang istilah istilah perbankan seperti letter of credit, bank garansi, transfer, kliring dan lain-lain. Houtman cepat menguasai pekerjaan yang dipercayakan, sampai suatu ketika Pejabat Citybank mengangkatnya sebagai pegawai bank, karena kompetensi yang dimilikinya, padahal dia hanya tamatan SMA.
Tantangan yang sangat besar dihadapi oleh Houtman, terutama cercaan teman teman se kantornya yang tidak suka dengan posisinya sebagai Karyawan Bank. Perjuangan, kerja keras, disiplin, menjalin hubungan dan komunikasi yang baik, semangat pantang menyerah yang dimiliki Hotman, dalam kurun waktu 19 tahun tepatnya 10 juni 2010, seorang OB telah mengubah nasibnya menjadi Vice President City Bank, Wakil Presiden Direktur City Bank, sebuah jabatan tertinggi di Indonesia, karena presiden direkturnya ada di USA.
Dari dua kisah diatas, kisah pertama, Jack Lord, seorang sarjana berprestasi Akademis yang selama 8 tahun belum dapat mengubah nasibnya sebagai Tukang Pel (Cleaning Service) dan Houtman yang memiliki cita-cita dan terus berjuang mengejar cita-citanya. Dalam kata lain Jack Lord yang memiliki Academic Skillnya tidak dapat mengaplikasikan ilmunya dalam bekerja, sedangkan Houtman menggunakan Soft skills yaitu mengelola dirinya untuk mau bekerja keras (effort), optimis (personal skill) dan menjalin hubungan dengan orang lain (social skill)
Sebuah penelitian yang dilakukan Harvard University, di Amerika Serikat, menyatakan bahwa kesuksesan seseorang tidak ditentukan semata-mata oleh pengetahuan (academic) dan keterampilan teknis (hard skill), tetapi oleh keterampilan mengelola diri dan orang lain (soft skill). Penelitian ini mengungkapkan bahwa kesuksesan hanya ditentukan sekitar 20 % dengan hard skill dan sisanya 80 % dengan soft skill.
OPINI | 03 February 2012 | 19:36
101 2 1 dari 1 Kompasianer menilai inspiratif
Bila kita mendengar seorang sarjana yang lulus dengan indeks prestasi tinggi, dalam benak kita sudah terbayang bahwa sebentar lagi akan menanti pekerjaan yang baik dan masa depan yang cemerlang bagi sarjana berprestasi tersebut. Namun, tidak demikian dengan Jack Lord. Ini Kisah Nyata. Jack Lord begitu Ia biasa dipanggil adalah seorang sarjana dengan predikat cum laude dari Universitas Riau. Beliau telah menghabiskan waktunya lebih dari 8 tahun bekerja sebagai Tukang Pel (Cleaning Service) di Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP)di jajaran Pemerintah Propinsi Riau. Otak encer dan Prestasi Akademik (IP 3,75) yang dicapai dengan susah payah ternyata tidak dapat mengubah nasib Jack Lord yang tetap menjadi Tukang Pel. Berita lengkapnya ada di : www.metronews.com/index.php/metro
Apa yang dapat kita petik dari kisah dan data di atas? Sebuah fakta menunjukkan bahwa kecerdasan dan prestasi akademis tidak menjamin lulusannya bisa mandiri, bisa mengatasi problema kehidupan dan bisa mengatasi masalah pengangguran.
Kisah Seorang OB (Office Boy)
Selanjutnya Saya akan menampilkan satu kisah pembanding, inipun kisah nyata. Kisah seorang Houtman Zaenal Arifin. Kisahnya dimulai ketika Houtman setamat SMA merantau ke Jakarta, karena kerasnya kehidupan Jakarta, Houtman lakoni pekerjaan sebagai pedagang asongan, Ia terus pelihara cita-citanyanya, dia ingin menjadi orang sukses dan hidup sejahtera begitu, katanya. Setiap hari, ia datangi kantor-kantor mewah untuk memasukkan surat lamaran pekerjaan, sampai suatu ketika, datang panggilan pekerjaan. Houtman mendapat panggilan bekerja di sebuah perusahaan yang sangat terkenal di dunia, The First National City Bank (Citybank), sebuah perusahaan bonafit di USA yang membuka cabang di Jakarta, Houtman pun diterima sebagai OB (Office Boy). Office Boy atau cleaning service atau tenaga kebersihan adalah struktur pekerjaan yang paling rendah di kantor tersebut, tugasnya mulai dari membersihkan WC, ruangan kerja dan ruangan lainnya.
Houtman menjalani pekerjaan sebagai OB dengan baik, namun kemauan belajar, berusaha, dan kegigihan yang luar biasa,membuat dia terus mengalami perubahan yang cepat, mulai sebagai OB, dia berkesempatan belajar mengoperasikan mesin fotocopy, dia juga rajin membantu karyawan yang lembur sampai malam, dia terus belajar dan bertanya tentang istilah istilah perbankan seperti letter of credit, bank garansi, transfer, kliring dan lain-lain. Houtman cepat menguasai pekerjaan yang dipercayakan, sampai suatu ketika Pejabat Citybank mengangkatnya sebagai pegawai bank, karena kompetensi yang dimilikinya, padahal dia hanya tamatan SMA.
Tantangan yang sangat besar dihadapi oleh Houtman, terutama cercaan teman teman se kantornya yang tidak suka dengan posisinya sebagai Karyawan Bank. Perjuangan, kerja keras, disiplin, menjalin hubungan dan komunikasi yang baik, semangat pantang menyerah yang dimiliki Hotman, dalam kurun waktu 19 tahun tepatnya 10 juni 2010, seorang OB telah mengubah nasibnya menjadi Vice President City Bank, Wakil Presiden Direktur City Bank, sebuah jabatan tertinggi di Indonesia, karena presiden direkturnya ada di USA.
Dari dua kisah diatas, kisah pertama, Jack Lord, seorang sarjana berprestasi Akademis yang selama 8 tahun belum dapat mengubah nasibnya sebagai Tukang Pel (Cleaning Service) dan Houtman yang memiliki cita-cita dan terus berjuang mengejar cita-citanya. Dalam kata lain Jack Lord yang memiliki Academic Skillnya tidak dapat mengaplikasikan ilmunya dalam bekerja, sedangkan Houtman menggunakan Soft skills yaitu mengelola dirinya untuk mau bekerja keras (effort), optimis (personal skill) dan menjalin hubungan dengan orang lain (social skill)
Sebuah penelitian yang dilakukan Harvard University, di Amerika Serikat, menyatakan bahwa kesuksesan seseorang tidak ditentukan semata-mata oleh pengetahuan (academic) dan keterampilan teknis (hard skill), tetapi oleh keterampilan mengelola diri dan orang lain (soft skill). Penelitian ini mengungkapkan bahwa kesuksesan hanya ditentukan sekitar 20 % dengan hard skill dan sisanya 80 % dengan soft skill.
Langganan:
Postingan (Atom)
